close

Kepemimpinan

BisnisKepemimpinanTips

8 Cara Memecat Karyawan dengan Baik

cara memecat karyawan

Ada kalanya dalam dunia bisnis, kita mempekerjakan orang dan berusaha memelihara karyawan tersebut agar betah. Tapi ada kalanya, karena satu dan lain hal, kita harus memecat karyawan kita. Kenyataanya, memecat karyawan tidaklah semudah itu. Kesalahan dalam memecat karyawan bisa berakibat buruk. Berikut ini adalah tips memecat karyawan yang baik dan sopan.

1. Berikan kesempatan pada karyawan untuk memperbaiki diri (atau mengundurkan diri) terlebih dahulu

Mungkin Anda pernah mempekerjakan karyawan yang salah, atau karyawan Anda ternyata tidak memenuhi ekspektasi Anda. Hal yang perlu Anda lakukan adalah melakukan percakapan dengan orang tersebut dan mengungkapkan keprihatinan Anda. Berikan kesempatan bagi mereka untuk menyadari bahwa memang pekerjaan ini tak cocok untuk mereka. Setelah pembicaraan seperti itu, biasanya karyawan akan mengundurkan diri dengan sendirinya.

2. Persiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu

Latihlah apa yang ingin Anda katakan dan siapkan semua dokumentasi yang dibutuhkan sehingga Anda dapat membuat proses sehalus mungkin. Jika Anda takut rasa tegang membuat Anda kelu, buatlah beberapa poin pembicaraan. Minimal, Anda harus menjelaskan proses yang harus dilakukan karyawan sebelum meninggalkan gedung, mengembalikan semua item perusahaan, dll.

3. Pilih tempat dan waktu yang tepat

Rencanakan tanggal, jam, dan waktunya. Para ahli banyak menyarankan awal pekan dan hindari memecat karyawan di hari jumat. Lakukan pemecatan pada jam makan siang atau pada waktu ketika bisnis tidak akan terlalu terpengaruh. Ruang konferensi adalah tempat terbaik.

4. Jangan terburu-buru datang ke pertemuan

Pastikan bahwa Anda meluangkan setidaknya 15 menit sebelum pertemuan untuk bersantai dan memperjelas tujuan Anda.

5. Fokus pada fakta (dan hukum)

Ketika memecat seorang karyawan, Anda perlu fokus pada fakta-fakta tertentu dan jangan menyerang karyawan sebagai pribadi. Anda juga harus mengikuti undang-undang khusus untuk wilayah Anda.

6. Usahakan jangan memecat karyawan seorang diri

Karena memecat karyawan adalah hal yang sangat emosional dan sensitif, usahakanlah ada perwakilan HR hadir dalam pertemuan itu. Jika Anda tidak memiliki staf HR yang terpercaya, pastikan ada orang lain yang Anda percaya dalam ruangan tersebut.

7. Bersikaplah konsisten

Pastikan keputusan Anda untuk memecat karyawan konsisten dengan perilaku dan tindakan Anda di masa lalu. Memecat si X sekarang karena dia terlambat tiga kali tapi tidak melakukan hal yang sama pada si Y, bisa menimbulkan masalah bagi Anda.

8. Usahakan agar hal tersebut tetap rahasia

Jika Anda perlu memecat karyawan, biarkan dia pergi dengan tetap menjaga martabatnya. Jangan membuat karyawan mengosongkan mejanya di depan karyawan-karyawan lain. Aturlah jam selepas kerja atau berikan kesempatan bagi bekas karyawan untuk tersebut untuk membersihkan barang-barangnya pada akhir pekan.

 

Sumber: www.businessnewsdaily.com

 

read more
BisnisKepemimpinanOpini

5 Alasan Anda Gagal Sebagai Pengusaha

alasan gagal sebagai pengusaha

Kewirausahaan memang sulit. Dan banyak yang tidak bisa sukses ketika menjalaninya. Sebagian sukses, sebagian mengalami kegagalan. Lantas, mengapa ada yang bisa gagal sementara lainnya sukses? Berikut ini adalah 5 alasan Anda mungkin gagal sebagai pengusaha.

1. Anda takut

Ketakutan adalah sifat yang rumit. Kemungkinannya adalah Anda memiliki ketakutan yang tak Anda sadari akan menghambat Anda. Entah itu masalah marketing atau promosi produk Anda ke orang banyak hingga mempresentasikan ide Anda ke hadapan investor, ketakutan bisa menghentikan langkah Anda. Seringkali, ketakutan yang tak kita sadari muncul dalam bentuk lain, antara lain ketidakpedulian, kebingungan, keraguan, kekhawatiran, hati-hati yang terlalu berlebihan, penundaan pekerjaan, penundaan, kurangnya ambisi, iri hati dan masih banyak lagi.

Beberapa orang lainnya takut akan kebenaran karena mereka tidak mau mengakui kekurangan mereka sendiri, dan mereka takut merasa malu. Lainnya mungkin takut sukses, karena mereka tidak merasa bahwa mereka layak mendapatkannya. Ada yang takut gagal, dan tidak pernah mencoba sesuatu sehingga mereka dapat menghindari kegagalan.

2. Anda tidak tahu bagaimana caranya mendelegasikan pada orang lain

Pengusaha kecil cenderung melakukan semuanya sendiri. Padahal, hal inilah yang menghambat mereka untuk sukses. Keengganan mereka untuk mendapatkan bantuan mencegah mereka membawa bisnis mereka ke tingkat berikutnya.

Jika Anda dapat belajar untuk melepaskan, delegasi, membangun tim dari orang-orang berbakat dan menyerahkan kepemilikan uang untuk hal tertentu, itu akan sangat menguntungkan Anda dalam jangka panjang.

3. Anda tidak memiliki ketekunan

Kemunduran, kegagalan sementara, ketidakpastian dan bisnis bahkan kebangkrutan bisa merupakan bagian dari menjadi entrepreneur. Yang bisa melawan dan berjuang adalah yang akan bertahan. Kadang-kadang dibutuhkan upaya abadi atau penolakan berulang untuk sampai ke tempat Anda inginkan. Tapi, seberapa mampu diri Anda menghadapi penolakan? 25? 100? Mereka yang mampu terus menjaga ketekunannya adalah yang akan berhasil.

4. Anda tidak pernah berinvestasi pada diri Anda

Banyak orang yang hanya fokus pada investasi uang. Padahal, investasi pada diri sendiri juga sangat penting, misalnya dengan belajar, menguasai alat-alat tertentu, dll. Sama seperti investasi dalam bisnis, investasi pada diri sendiri dapat memberi dividen yang besar nantinya. Jika Anda mengakhiri pendidikan Anda dengan sekolah formal, Anda telah merugikan diri Anda sendiri. Anda harusnya melanjutkan pendidikan dengan mengambil training, les, pelatihan, kursus, dll.

5. Anda menyelesaikan banyak hal, tapi bukan hal yang benar

Banyak dari kita merasa seperti kita terlalu sibuk untuk makan dan memikirkan masa depan. Tapi apakah kita semua benar-benar sibuk—atau kita hanya mengisi jadwal dengan banyak sekali hal dan tidak bisa mengatakan tidak untuk hal yang tidak penting dan membiarkan hidup kita didikte oleh agenda orang lain? Hal yang tunda seringkali adalah hal yang penting untuk Anda.

 

Sumber: www.entrepreneur.com

read more
BisnisInfoKepemimpinan

7 Kebiasan Kerja yang Buruk yang Harus Anda Hilangkan Sebelum Menjadi Entrepreneur

kebiasaan buruk yang harus dihilangkan

Beberapa dari kita pasti mempunyai kebiasaan kerja yang buruk. Banyak yang kemudian berpikir untuk membiarkannya atau tidak melakukan perbaikan karena toh ‘saya bisa survive walaupun dengan kebiasaan kerja yang buruk ini’.

Jika Anda berencana menjadi entrepreneur, tentu hal ini tidak bisa didiamkan. Berikut ini adalah beberapa kebiasaan kerja yang buruk yang harus Anda hilangkan jika Anda memang berniat untuk menjadi entrepreneur.

1. Tidak merencanakan hari (atau minggu) Anda

Ketika Anda sebagai karyawan, Anda bisa tetap survive dengan kebiasaan ini. Tapi, sebagai pengusaha, jika prioritas Anda tidak jelas, Anda mungkin tidak akan pernah bisa menggali diri keluar dari lubang. Setiap hari, dan setiap minggu, Anda perlu melakukan tinjauan awal mengenai apa yang perlu dilakukan dan mengatur tugas-tugas berdasarkan urutan kepentingan.

2. Menanggapi email segera setelah email tersebut datang

Tanggapan yang segera memang hampir selalu baik jadi memang tidak salah jika Anda selalu ingin memberi tanggapan yang sesegera mungkin. Namun, menanggapi email sepanjang hari bisa membuat Anda teralihkan dari tugas-tugas Anda. Rencanakan tugas dan proyek Anda di awal, dan jangan biarkan email tanpa henti mengalihkan perhatian Anda. Satu pengecualian untuk aturan ini, bagaimanapun, adalah tenaga penjualan yang memang memerlukan respon cepat untuk meningkatkan penjualan.

3. Berkomunikasi secara tidak efisien

Email yang tidak ditulis secara efisien atau percakapan dalam rapat yang tidak efisien bisa menyebabkan gangguan kecil pada karyawan. Namun, jika ini Anda lakukan sebagai pengusaha pemula, masalah ini dapat menyebabkan sakit kepala serius dan membuat perusahaan Anda terlihat tidak profesional. Lakukanlah perbaikan mengenai cara Anda berkomunikasi. Jangan terburu-buru dan selalu hati-hati mengenai apa yang akan Anda katakana.

4. Menetap di rutinitas

Rutinitas berguna untuk produktivitas, terutama untuk tugas sehari-hari yang mungkin Anda lupakan jika tidak ada rutinitas. Namun, menetap terlalu dalam pada suatu rutinitas bisa menempatkan Anda dalam posisi yang buruk ketika hal-hal berubah secara tiba-tiba. Sebagai seorang pengusaha, Anda harus fleksibel untuk mengubah pendekatan Anda ketika situasi menuntut hal itu.

5. Tidak pernah istirahat

Tampaknya sederhana ketika Anda tidak sempat istirahat karena ingin menyelesaikan lebih banyak tugas. Namun, bekerja pada saat seharusnya Anda istirahat bisa berdampak buruk pada kesehatan dan produktivitas Anda. Sebagai seorang pengusaha, enam jam kerja yang luar biasa lebih bagus dari delapan jam kerja yang biasa-biasa saja.

6. Terlambat

Jika Anda seorang karyawan yang masuk hanya untuk mengecek email, terlambat 10 menit biasanya tidak masalah. Tapi, sebagai seorang entrepreneur yang sering rapat dengan klien atau ingin memberi contoh yang baik bagi karyawan, terlambat dapat merusak imej Anda. Anda bisa mengatur jadwal Anda sendiri, tapi Anda harus mematuhi jadwal tersebut dan harus selalu on time.

7. Suka menunda pekerjaan

Sebagai karyawan, mungkin tak akan terjadi masalah jika Anda menunda untuk mengerjakan suatu tugas. Namun, sebagai entrepreneur, menunda pekerjaan bisa menimbulkan masalah besar. Jika Anda tidak bisa menangani sesuatu, delegasikan atau cari bantuan dari luar. Jangan hanya menunda atau mengesampingkannya.

 

Sumber: www.entrepreneur.com

read more
BisnisKepemimpinanTips

5 Tips Libur Tanpa Khawatir untuk Para Entrepreneur

liburan tanpa khawatir

Selain dari semua pengambilan keputusan, beban keuangan dan tanggung jawab kewirausahaan sehari-hari, dilema utama yang dialami entrepreneur adalah mengelola keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Anda telah menginvestasikan dan mendedikasikan diri pada usaha Anda. Namun, banyak yang akhirnya malah stres. Yang diperlukan sebenarnya adalah sedikit waktu istirahat, misalnya untuk liburan atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi, banyak entrepreneur yang merasa khawatir dengan banyak hal saat melakukannya.

Berikut ini adalah tips agar Anda bisa sedikit berlibur dan beristirahat tanpa merasa khawatir.

1. Buatlah rencana

Semakin intens Anda merencanakan liburan Anda, semakin besar kemungkinan Anda menindaklanjutinya. Jadwalkan waktu libur Anda beberapa minggu (atau bulan) sebelumnya dan beritahu semua orang di organisasi mengenai hal ini. Dengan cara ini, Anda bisa mempersiapkan mereka untuk membuat rencana selama kepergian Anda. Mungkin seseorang dalam bisnis bisa mengambil tanggung jawab Anda sementara selama Anda berlibur. Beritahukan juga bahwa mungkin Anda tidak akan bisa dihubungi kecuali untuk keadaan yang sangat sangat darurat dan kemungkinan mereka akan mematuhinya.

2. Delegasikan atau tunda

Untuk setiap tugas, termasuk tanggung jawab biasa sehari-hari Anda hari serta situasi darurat yang mungkin muncul secara berkala saat Anda sedang pergi, putuskan apakah Anda akan mendelegasikan atau menunda tindakan Anda. Jika Anda ingin mendelegasikan, tunjuklah salah satu anggota tim Anda untuk mengambil tanggung jawab tugas tanpa kehadiran Anda. Jika Anda ingin menunda, anggap tugas tersebut ‘tak penting’ dan tahu bahwa Anda akan menanganinya hanya setelah Anda kembali.

Anda tidak perlu khawatir dengan tugas yang didelegasikan karena Anda telah memberikannya kepada orang yang bertanggung jawab di tim Anda. Menunda tugas juga tidak perlu membuat Anda khawatir karena tugas-tugas tersebut tidak perlu dilakukan Anda kembali.

3. Putuskan hubungan

Memutuskan hubungan adalah langkah sederhana tapi kebanyakan dari kita merasa bersalah jika melakukannya. Ketika Anda sedang berlibur, lepaskan diri dari dunia. Matikan telepon Anda, matikan Internet Anda dan cobalah untuk tidak menyalakan setiap gadget Anda. Ketika Anda tetap berhubungan, Anda akan terus khawatir. Jika ada keadaan darurat, seseorang dalam tim Anda dapat mengatasinya sampai Anda kembali, atau menghubungi Anda melalui telepon hotel atau mungkin menemui Anda (jika keadaannya memang benar-benar buruk).

4. Buatlah ‘waktu khawatir’

Jika Anda merasa bahwa selama hubungan terputus Anda tetap merasa khawatir, cobalah untuk memfokuskan kembali usaha Anda sehingga Anda hanya khawatir untuk jangka waktu tertentu setiap hari. Sebagai contoh, Anda mungkin memilih jam 12.00 sampai 13.00 sebagai ‘waktu khawatir’ Anda untuk memeriksa email dan berpikir tentang apa yang terjadi di pekerjaan Anda. Tapi ketika sudah jam 13,00, Anda harus menarik diri dari layar dan hanya fokus untuk menikmati diri Anda sendiri.

5. Praktekkan dan skalakan

Beberapa entrepreneur pasti sadar mereka tak akan bisa liburan yang benar-benar bebas dari rasa khawatir. Jika memang demikian, cobalah untuk melatih liburan tanpa-khawatir dengan mulai dalam skala kecil.
Mulailah dengan libur setengah hari dan mengikuti cara di atas. Setelah Anda nyaman, cobalah untuk libur sehari penuh, lalu dua hari, tiga hari, seminggu dan seterusnya.

Selain liburan, spiritualitas juga dipercaya bisa mengurangi stres dalam memikirkan bisnis.

 

Sumber: www.entrepreneur.com

read more
BisnisInfoKepemimpinan

Apakah Wanita Harus Bersikap Seperti Pria untuk Bisa Berhasil?

apakah perempuan harus seperti pria

Haruskah seorang wanita berperilaku seperti seorang pria untuk bisa berhasil? Pertanyaan inilah yang dilontarkan dalam sebuah studi baru oleh tiga universitas. Mereka bertanya kepada 105 pria mengenai pendapat mereka mengenai wanita yang lebih cerdas daripada mereka. Peneliti menemukan fakta bahwa pria mengagumi wanita yang cerdas, tapi tidak mau berkencan dengannya karena mereka merasa terintimidasi.

Lantas, bagaimana wanita harus bersikap. Berikut ini adalah tips Tanja Rueckert, seorang eksekutif teknologi wanita di bidang yang didominasi pria.

1. Jadilah diri sendiri

Prinsip yang paling penting adalah: Jadilah diri sendiri. Jangan mencoba untuk memainkan peran, dan jangan mencoba untuk menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Berpura-pura menjadi orang lain tidak berkelanjutan dan tidak akan membantu Anda menang dalam jangka panjang.

2. Berhenti meminta maaf untuk pilihan yang Anda buat

Kadang-kadang kita semua merasa perlu untuk meminta maaf karena harus menghadiri acara keluarga yang berlangsung selama hari kerja. Misalnya, Anda ingin mengambil waktu untuk bisa bersama anak Anda di acara besarnya, seperti hari pertama masuk TK, dan karena acara tersebut Anda mungkin tidak bisa melakukan pertemuan dengan bos Anda. Kemudian, Anda memilih untuk libur setengah hari untuk hadir di acara anak Anda dan segera bekerja keras untuk mengganti jam yang hilang. Tidak, Anda harus berhenti melakukannya. Kita seharusnya tidak merasa berkewajiban untuk meminta maaf karena mengambil cuti untuk acara keluarga yang penting. Anda harus tahu makna dari keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan.

3. Empati dan respek dalah sifat penting bagi semua pemimpin

Untuk seorang manajer, kemampuan untuk memahami dan berempati terhadap staf akan sangat bermanfaat dalam membuat staf merasa terlibat dan produktif. Untuk alasan ini, empati tidak boleh dipandang sebagai kelemahan, baik pada eksekutif pria maupun wanita. Wanita yang menetralisir perasaan mereka sehingga mereka bisa lebih ‘maskulin’ justru akan merugi karena hal ini justru akan menyia-nyiakan bakat alami yang mereka miliki.

4. Dorong wanita lain untuk menjadi diri mereka sendiri

Wanita cenderung lebih berhasil ketika mereka membiarkan diri mereka yang sebenarnya muncul, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Dan ketika Anda berhasil dengan itu, kini saatnya untuk memunculkan wanita-wanita berhasil lainnya seperti Anda. Ya, Anda mempunyai kewajiban untuk mendorong wanita lain agar berani menjadi diri sendiri.

 

Sumber: www.entrepreneur.com

read more
BisnisKepemimpinanTips

3 Cara Menginspirasi Inovasi pada Karyawan

menginspirasi inovasi

Melakukan inovasi sangatlah penting bagi suatu usaha untuk bisa tetap survive. Namun, hal ini bisa memberatkan karyawan, khususnya jika mereka telah bekerja keras untuk tugas-tugas yang sudah ada dan terus bisa menyesuaikan diri dengan ritme bisnis Anda. Kreativitas bisa semaki dipermudah dengan melaksanakan bisnis di satu tempat, misalnya perangkat lunak manajemen bisnis berbasis cloud, sehingga Anda dapat mengakses informasi yang Anda butuhkan ketika dibutuhkan. Dengan demikian, Anda bisa punya lebih banyak waktu menginspirasikan inovasi pada karyawan Anda.

Berikut ini adalah beberapa lebih banyak cara untuk menginspirasi inovasi di antara karyawan.

1. Berikan kebebasan pada karyawan dengan cara mendengarkan mereka

Ketika seorang karyawan merasa bahwa ide mereka didengarkan, mereka akan termotivasi untuk membagikan ide tersebut. Kebahagiaan membuat orang 12 persen lebih produktif, dan cara memunculkan kebahagiaan bisa sesederhana meluangkan waktu untuk mendengar pikiran mereka. Jika Anda menjalankan bisnis di seluruh wilayah, Anda bisa menelepon pimpinan pada masing-masing cabang untuk menjadwalkan waktu dengan tim mereka.

Ketika Anda mengenal gairah dari orang-orang yang terlibat dalam bisnis AndaAnda akan menciptakan budaya penerimaan yang akan membuat semua orang lebih bersedia untuk terlibat. Anda tidak pernah tahu apa ide-ide di luar sana sampai Anda luangkan waktu untuk mendengarkannya.

2. Masukkan dalam jadwal

Jika Anda ingin mendorong inovasi, luangkanlah waktu untuk hal tersebut. Buatlah pertemuan mingguan atau bulanan untuk brainstorming sebagai wadah bagi karyawan untuk menyalurkan ide mereka. Mengajak bicara secara tatap muka pasti akan memberikan kesan yang lebih diingat daripada sekedar email blast.

Jika Anda berada di beberapa lokasi, Anda dapat menggunakan Google Hangout atau Skype untuk video call. Anda juga dapat menggunakan alat komunikasi tersebut untuk berkolaborasi secara internal di luar jadwal pertemuan. Dengan cara itu, tim Anda dapat berbagi ide terlepas dari zona waktu atau lokasi, yang memungkinkan terjadinya inovasi kapan saja, di mana saja.

3. Sediakan mentoring

Tidak harus selalu Anda yang menawarkan umpan balik ke tiap-tiap karyawan dalam tim Anda—terutama jika Anda memiliki beberapa lokasi usaha. Program mentoring sangatlah berharga karena bisa membantu karyawan berpikir di luar keahlian mereka. Agar tetap modern, mulailah mengembangkan program bimbingan terbalik. Gaya ini memungkinkan karyawan Anda yang lebih muda untuk memimpin dan menawarkan wawasan mengenai tren teknologi dan generasi pelanggan yang terus tumbuh. Mereka akan menjadi orang-orang membangun masa depan bisnis Anda, jadi sangat disarankan bagi Anda untuk merancang mereka dengan dasar untuk sukses.

 

Sumber: www.entrepreneur.com

read more
BisnisInfoKepemimpinan

Manfaat Spiritualitas bagi Entrepreneur

spiritualitas bagi entrepreneur

Beberapa orang menganggap kesuksesan duniawi, seperti keberhasilan dalam kewirausahaan, tidak berkaitan dengan spiritualitas. Spiritualitas bisa diartikan berbeda, tapi di artikel ini spiritualitas mengacu pada suatu hal yang lebih besar dari diri kita sendiri. Sebagai umat beragama di Indonesia, kita sering mengaitkan spiritualitas ini sebagai hubungan kita dengan Tuhan.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai bagaimana spiritualitas telah membantuk banyak entrepreneur untuk mencapai kesuksesan mereka.

Spiritualitas menawarkan motivasi berkelanjutan

Banyak orang ingin memiliki usaha sendiri dan menjadi bos karena benci dengan pekerjaan mereka saat ini. Mereka ingin melarikan diri dari apa yang mereka benci, baik itu pekerjaan yang membosankan itu sendiri, bos terlalu banyak menuntut, atau lingkungan kerja yang tak menyenangkan. Tidak dikatakan bahwa hal ini tidak baik dan tidak boleh terjadi. Hanya saja hal ini berbahaya karena mentalitas melarikan diri tidak menawarkan motivasi berkelanjutan.

Jika Anda tahu, sebenarnya sangat mudah untuk melarikan diri. Jika Anda telah terikat dengan pekerjaan Anda selama bertahun-tahun, dan Anda telah dicuci otak selama pendidikan sebelum Anda bekerja, mungkin hal ini akan terdengar tak mungkin di telinga Anda, tapi hal ini memang benar mudah adanya. Terlalu mudah, bahkan. Anda cukup keluar, dan Anda sudah melarikan diri. Kemudian Anda akan termotivasi untuk memulai bisnis dengan satu-satunya motivasi yaitu kebutuhan finansial.

Ketika Anda memulai bisnis Anda untuk menghidupkan tujuan Anda dan menyebarkan cinta Anda, Anda akan memiliki motivasi yang jelas dan berkelanjutan. Anda tahu apa yang ingin Anda lakukan, dan Anda memilik pengetahuan mengenai arah mana yang akan Anda tuju. Visi dan cinta memotivasi Anda dan membantu Anda bertahan pada saat-saat sulit yang telah dilewati oleh banyak entrepreneur.

Spiritualitas membantu meningkatkan kualitas layanan

Katakanlah orang yang berhasil melarikan diri dari pekerjaan yang dibencinya menemukan ide bisnis yang bagus dan tahu cara untuk memulai bisnisnya. Jadi dia adalah seorang entrepreneur sekarang. Motivasinya adalah untuk membuat uang (dan mungkin menjadi terkenal ke depannya).

Tentu saja, membuat uang sangat penting dalam kewirausahaan. Jika Anda tidak membuat cukup uang, Anda akan bangkrut dan keluar dari bisnis, yang berarti Anda bukan lagi seorang pengusaha. Maksudnya di sini adalah ketika Anda hanya fokus untuk membuat uang atau pada apa yang bisa Anda dapatkan, Anda akan kehilangan fokus pada inti bisnis Anda, yaitu produk dan layanan.

Sebaliknya, ketika Anda memulai bisnis Anda karena Anda mencintai apa yang Anda tawarkan dan Anda ingin menyenangkan pelanggan Anda dengan produk dan jasa Anda, Anda secara alami memperhatikan bagaimana Anda dapat meningkatkan layanan Anda secara lebih baik lagi. Anda memberikan nilai yang besar kepada pelanggan Anda, mereka menghargai nilai yang mereka terima dari bisnis Anda, dan uang mengalir kembali kepada Anda sebagai hasilnya. Pelanggan bahkan membawa orang yang mereka cintai kepada Anda karena mereka mencintai apa yang Anda tawarkan.

Pemasaran menjadi sangat mudah ketika aliran seperti ini telah terbentuk. Bahkan jika Anda pemalu, berbicara tentang layanan Anda menjadi menyenangkan karena Anda mencintai apa yang Anda tawarkan. Kepercayaan diri Anda dikomunikasikan, dan orang-orang akan mengambil gairah Anda tersebut.

 

Sumber: www.pickthebrain.com

read more
BeritaBisnisKepemimpinan

Riset Terbaru: Pengusaha Perempuan Lebih Sukses daripada Pengusaha Lelaki

pengusaha perempuan lebih sukses

Penelitian baru menemukan bahwa bisnis yang dijalankan oleh pengusaha perempuan lebih sukses daripada bisnis yang dijalankan oleh lelaki. Tapi, perempuan lebih jarang yang membanggakan kesuksesan mereka.

Studi dari Barclays dan University of Cambridge mengungkapkan bahwa hanya 42% perempuan yang mengaku bisnis mereka makmur, dibandingkan dengan lelaki yang mencapai 62%. Tapi rata-rata, bisnis yang dijalankan oleh perempuan melaporkan keuntungan sebelum pajak yang lebih tinggi daripada bisnis yang dijalankan oleh lelaki. Dari studi ini, bisa kita ketahui bahwa perempuan cenderung menganggap kecil kesuksesan mereka.

Penelitian ini juga menemukan bahwa wanita lebih ambisius dalam bisnis, dengan 50 persen wanita tertarik untuk memulai bisnis lain dalam tiga tahun ke depan, dibandingkan lelaki yang jumlahnya kurang dari 20%.

Jadi mengapa perempuan bisa lebih berhasil di bisnis dibandingkan dengan lelaki? Penelitian menunjukkan bahwa hal itu bisa dikarenakan preferensi mereka untuk menghadapi segala sesuatu dengan lambat dan mantap. Sementara pengusaha lelaki cenderung untuk mengambil risiko dalam mengembangkan bisnis mereka dengan cepat dan kemudian menemukan jalan keluar, perempuan cenderung memiliki tujuan untuk mencapai pertumbuhan yang terkendali dan menghindari perjudian.

 

Sumber: www.virgin.com

read more
BeritaBisnisKepemimpinan

5 Cara untuk Membuat Karyawan Merasa Terberdayakan

memberdayakan karyawan

Sebagai pengusaha atau pemilik bisnis, tentu Anda sering melihat karyawan yang terlihat menjanjikan tapi tidak terlihat ada peningkatan, karyawan yang tidak mau melakukan kontak mata dengan harapan tidak perlu berkontribusi, atau karyawan yang tidak mengerti bahwa pekerjaan harian mereka sangat berarti bagi perusahaan.

Itu adalah tanda-tanda bahwa karyawan Anda tidak terberdayakan. Karyawan akan merasa terberdayakan jika Anda memperlakukan mereka seperti itu. Memberdayakan karyawan termasuk bagian dari memelihara mereka sebagai bagian dari perusahaan.

Berikut adalah lima tips untuk membuat karyawan Anda merasa terberdayakan.

1. Mulailah dengan visi strategis yang jelas

Pertama kali, Anda harus memberikan sesuatu yang bisa membuat karyawan bersemangat dan aktif. Dan hal itu adalah visi perusahaan. Tidak seperti misi perusahaan yang biasanya hanya ditujukan untuk pemegang saham tentang bagaimana perusahaan itu ke depannya, visi perusahaan dibuat untuk memotivasi karyawan. Visi menjelaskan tentang berada di mana perusahaan Anda sekarang, kemana perusahaan akan melangkah, dan bagaimana mencapai titik B dari titik A.

Gunakan visi ini untuk menginspirasi dan memberdayakan karyawan untuk bekerja menuju tujuan bersama.

2. Pastikan semua orang berada pada halaman yang sama

Karyawan yang diberdayakan akan memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk membuat keputusan. Agar karyawan bisa memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri tersebut, pastikan tujuan pekerjaan dari masing-masing individu sejalan dengan tujuan perusahaan.

Karyawan yang dapat menghubungkan upaya mereka dengan pekerjaan perusahaan secara keseluruhan akan merasa jauh lebih mudah untuk membuat keputusan yang sejalan dengan visi organisasi. Jadi, bantulah karyawan untuk menetapkan tujuan kerja yang relevan.

3. Hargai semua upaya dan keberhasilan

Kunci untuk membuat karyawan merasa cukup percaya diri untuk mengambil inisiatif dan membuat keputusan dengan memberikan hadiah atas apa yang telah mereka lakukan. Penghargaan atas upaya yang mereka lakukan bisa menjadi motivasi bagi mereka, yang akan mendorong karyawan untuk terus melakukan apa yang mereka lakukan, serta menginspirasi anggota tim mereka untuk mengikutinya. Hal ini akan membuat karyawan menyadari bahwa pikiran dan pendapat mereka dihargai, yang membuat mereka menjadi lebih aktif.

4. Hilangkan hambatan dan berikan bantuan

Jika Anda menghilangkan semua hambatan, seperti kebijakan atau kebiasaan organisasi, karyawan akan lebih merasa terberdayakan. Jika Anda tidak memiliki budaya komunikasi terbuka, misalnya, karyawan mungkin cenderung tidak terpacu untuk menyampaikan ide.

Yang lebih penting lagi, berdayakan karyawan dengan memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk bisa sukses dan menjadi pemimpin. Sediakan pelatihan yang diperlukan, mentor, umpan balik kualitas dan hal lainnya yang akan lebih memberdayakan mereka.

5. Jangan berkeliaran di dekat mereka

Untuk benar-benar memberdayakan karyawan, pengusaha harus bersedia untuk mengambil langkah mundur. Beberapa karyawan mungkin akan lebih mudah untuk berkembang jika mereka tidak merasa seperti setiap gerakan mereka sedang dipantau, belum lagi dievaluasi. Pemantauan setiap gerakan dari karyawan bisa memberi efek terbalik dan bahkan bisa menghambat kemampuan mereka untuk tumbuh sebagai profesional.

Kadang-kadang cara termudah untuk memberdayakan karyawan adalah dengan menyerahkan kendali. Selain memberikan lebih banyak kekuatan di tangan karyawan, hal ini juga bisa membangun kepercayaan yang lebih besar antara pengusaha dan karyawan.

 

Sumber: www.entrepreneur.com

read more
BeritaBisnisKepemimpinan

Mengapa Jumlah Entrepreneur Perempuan Lebih Sedikit Daripada Lelaki?

entrepreneur wanita sedikit

Statistik menunjukkan bahwa 70 persen bisnis di Amerika dijalankan oleh lelaki. Lantas, mengapa lebih sedikit perempuan yang memilih menjadi entrepreneur sebagai karir?

Penelitian baru menemukan bahwa pria yang secara signifikan lebih percaya diri dan lebih tidak rendah hati jika dibandingkan dengan perempuan. Dan hal inilah yang membuat mereka bisa lebih berhasil sebagai pengusaha.

Penelitian yang dipimpin oleh peneliti-peneliti dari University of North Carolina dan Wharton School at the University of Pennsylvania meneliti 90,000 proyek Kickstarter, yang 30 persennya diciptakan oleh perempuan. Studi ini didorong oleh beberapa pertanyaan kunci, termasuk: seberapa besar kemungkinan orang memulai bisnis kedua? Dan apakah pria lebih percaya diri dari perempuan, sebagai lawan dari optimis?

Para peneliti mendefinisikan optimis sebagai pencipta proyek yang mungkin untuk meluncurkan bisnis selanjutnya ketika mereka tak bisa mendapatkan dana yang ditargetkan sekitar USD 100. Di sisi lain, terlalu percaya adalah mereka yang memutuskan untuk mencoba lagi, bahkan jika mereka telah melewatkan target USD 100 mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata cenderung tidak meluncurkan proyek lain terlepas dari apakah usaha pertama mereka gagal. Wanita juga lebih mudah terpengaruh oleh kegagalan besar. Hal ini menyebabkan para peneliti percaya bahwa wanita memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih rendah dan kerendahatian yang lebih tinggi.

Selain itu, mereka menyimpulkan bahwa pria dan wanita melihat kegagalan dan keberhasilan dengan cara yang berbeda. Ketika pria gagal, mereka cenderung melihatnya sebagai batu sandungan yang dapat diatasi jika mereka mencoba lagi, sedangkan wanita melihat kegagalan sebagai tanda bahwa mereka tidak cocok untuk kewirausahaan. Di sisi lain, pria melihat keberhasilan sebagai tanda keterampilan mereka sendiri (bahkan jika mereka sebelumnya telah gagal), tapi wanita melihat kesuksesan sebagai hasil dari keberuntungan.

Para peneliti mengatakan bahwa jika perempuan “setidak sopan lelaki” (misalnya jika mereka meneruskan kewirausahaan mereka setelah sukses), mereka akan menjadi pendiri dari sekitar 16 persen lebih bisnis.

Oleh karena itu, kuncinya mungkin bukan dengan meningkatkan kepercayaan diri perempuan ketika mereka baru mengalami kegagalan dan memberitahukan kepada mereka bahwa mereka akan berhasil jika mereka mencoba lagi, tapi dengan meningkatkan kepercayaan diri perempuan ketika mereka berhasil sehingga mereka tidak menafsirkan keberhasilan mereka sebagai kebetulan.

 

Sumber: www.virgin.com

read more
1 2
Page 1 of 2